PENDAHULUAN


       I.            Latar Belakang
Pada hakikatnya manusia membutuhkan pendidikan, karena dengan pendidikan manusia dapat memperoleh pengetahuan dan keterampilan serta dapat mengembangkan kemampuan, sikap dan tingkah laku. Pendidikan merupakan suatu aspek kehidupan yang sangat mendasar bagi pembangunan suatu bangsa dan negara.
Pendidikan nasional menurut UU No. 20 tahun 2003 dalam BAB II Pasal 3 memiliki fungsi dan tujuan:
Mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Dari fungsi dan tujuan tersebut maka tugas seorang pendidik adalah bagaimana menerapkan beberapa keterampilan mengajar agar seluruh tujuan tersebut dapat tercapai dalam suatu pembelajaran. (oemar hamalik) Menurut Gagne dan Brigga (dalam Abdul 2013: 4) menyatakan bahwa “pembelajaran adalah rangkaian peristiwa (events) yang mempengaruhi pembelajaran sehingga proses belajar dapat berlangsung dengan mudah”. Pada dasarnya pembelajaran merupakan kegiatan terencana yang mengkondisikan/merangsang seseorang agar bisa belajar dengan baik agar sesuai dengan tujuan pembelajaran (Abdul, 2013: 5). Dalam penyelenggaraan pembelajaran, guru harus merencanakan kegiatan pengajarannya secara sistematis dan berpedoman pada seperangkat aturan dan rencana tentang pendidikan yang dikemas dalam bentuk kurikulum.
Dalam kurikulum SD terdapat beberapa mata pelajaran pokok dan muatan lokal serta pengembangan diri. Salah satu mata pelajaran pokok tersebut adalah matematika. Sebagai mata pelajaran yang wajib diberikan kepada peserta didik, tentu pembelajarannya juga harus mengarah kepada tujuan pendidikan nasional. Pemikiran kritis, sistematis, logis, dan kreatif merupakan cara berpikir yang dapat dikembangkan melalui belajar matematika.
Dalam proses belajar tentunya terdapat tolak ukur  yang digunakan, apakah proses belajar yang telah dilalui peserta didik telah tercapai atau belum tercapai. Tolak ukur yang umum digunakan untuk menentukan keberhasilan seseorang yaitu hasil belajar. Hasil belajar diperoleh setelah peserta didik melakukan kegiatan pembelajaran. Hasil belajar berupa perubahan sikap, perkembangan pengetahuan dan keterampilan.
Hasil belajar yang baik selalu diharapkan di berbagai pendidikan. Misalnya dalam pendidikan matematika, matematika dibutuhkan dalam berbagai bidang seperti fisika, ekonomi, teknologi dan bidang lainnya. Matematika menjadi subjek yang sangat penting, karena menjadi ilmu dasar yang digunakan untuk meningkatkan kemajuan setiap bidang. Oleh karena itu matematika diberikan kepada siswa mulai dari jenjang sekolah dasar sampai dengan tingkat perguruan tinggi.
Mata pelajaran Matematika pada satuan pendidikan SD / MI misalnya geometri dan pengukuran. Dalam pembelajaran geometri terdapat pembahasan bangun datar yang bermacam–macam. Bentuk-bentuk bangun datar dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari misalnya: bentuk persegi panjang dapat dilihat di rumah seperti pintu, tembok, jendela, dan lain-lain.

    II.            Fenomena
Berdasarkan penuturan guru kelas V di SD Negeri 2 Ngadimulyo bahwa hasil belajar pada pelajaran matematika di kelasnya masih rendah. KBM (Ketuntasan Belajar Minimal) pada mata pelajaran matematika di kelas 5A di SD Negeri 2 Ngadimulyo adalah 70.
Terdapat berbagai macam faktor yang berpengaruh dalam pembelajaran matematika dengan materi bangun datar di kelas V SD N 2 Ngadimulyo Temanggung. Berdasarkan ulangan harian matematika terdapat 10 peserta didik yang memiliki nilai dibawah KKM. Perlu dilakukan kajian terhadap pembelajaran matematika yang telah dilaksanakan untuk mengetahui penyebab tidak tuntasnya hasil belajar matematika.
Dari wawancara pada hari Sabtu, 7 Juni 2017 yang dilakukan penulis, guru menugungkapkan bahwa telah menjelaskan materi dengan jelas dan lengkap. Namun, masih ada peserta didik yang tidak memperhatikan dan berbicara sendiri. Penggunaan metode yang kurang sesuai dan belum diterapkannya media pembelajaran di kelas membuat siswa cepat bosan serta pasif saat mengikuti pembelajaran matematika. Peserta didikpun malas membaca buku dan menghafalkan rumus.
Siswa pada jenjang sekolah dasar berada pada tahap berpikir operasional kongkret. Siswa memperoleh pengetahuannya dengan berinteraksi dengan objek secara langsung. Interaksi secara langsung yang dilakukan dapat memberikan pengalaman, meningkatkan daya kreasi, dan keaktifan siswa. Objek tersebut dapat diwujudkan menjadi sebuah media yang membantu siswa untuk mempermudah siswa dalam pembelajaran.
Kustandi (2011: 9) menyatakan bahwa “media pembelajaran adalah alat yang dapat membantu proses belajar mengajar dan berfungsi memperjelas makna pesan yang disampaikan, sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran dengan lebih baik dan sempurna”. Media pembelajaran membantu guru dalam menyampaikan suatu konsep atau materi yang berbentuk abstrak menjadi lebih kongkret.

 III.            Jurnal
        Penelitian yang dilakukan oleh Ratna (2016) yang termuat dalam Jurnal PGSD Indonesia P-ISSN 2443-1656/E-ISSN 977-2549477 dengan judul “Pengembangan Media Pembelajaran Bangun Datar Berbasis Miniatur Rumah Pada Mata Pelajaran Matematika SD” Vol 3 No 1 Tahun 2017, bahwa pengembangan media miniatur rumah memperoleh hasil penilaian dari ahli media yaitu dosen ahli media secara keseluruhan mendapat perolehan skor sebanyak 67 karena nilai ahli media berada pada rentang 57,38-70,12 yaitu berkriteria baik. Berdasarkan uji t pada nilai posttest didapat t hitung (6,905) lebih besar dari t tabel (2,305), menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antara kelas kontrol dan kelas ekperimen. Dapat disimpulkan bahwa media miniatur rumah (Bopas Minirum) ini efektif digunakan dalam pembelajaran. Media miniatur rumah (Bopas Minirum) ini dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Berdasarkan analisis N-gain diperolah nilai N-gain di kelas kontrol sebesar 0,27 dengan kriteria rendah, sementara di kelas eksperimen diperoleh nilai N-gain sebesar 0,70 dengan kriteria tinggi. Dapat disimpulkan bahwa kelas yang diberi perlakuan berupa penggunaan media miniatur rumah mengalami peningkatan prestasi yang tinggi dibanding kelas yang tidak memakai media.

 IV.            Analisis
Saya sebagai peneliti menyarankan bahwa untuk mengatasi masalah tersebut alternatif yang dipilih yaitu menggunakan media pembelajaran miniatur rumah pada materi bangun datar. Dengan menggunakan media pembelajaran miniatur rumah, siswa dapat langsung mengenal bangun datar apa saja yang sering mereka jumpai. Dengan media pembelajaran miniatur rumah siswa dapat langsung mengamati unsur-unsur dari bangun datar tersebut secara kongkret. Media pembelajaran miniatur rumah juga dapat membantu siswa dalam memahami unsur yang ada dari setiap bangun datar secara langsung seperti menentukan sisi, keliling dan luas. Sehingga media ini dapat meningkatkan konsentrasi dan minat belajar siswa karena siswa terlibat secara aktif dalam pembelajaran.

Komentar